PT MARWAH SARI UTAMA
PT MARWAH MUSTAJAB WISATA
Umroh Mustajab
IZIN UMROH DEPAG: D/266 TAHUN 2014
IZIN HAJI DEPAG : D/439 TAHUN 2014
Umroh Sesuai Sunnah
IZIN UMROH DEPAG: D/266 TAHUN 2014, IZIN HAJI DEPAG : D/439 TAHUN 2014

Kok yaa ada, malaikat suka fulus..

Ba’da Isya  pak Deto, meluncur ke restoran di hotel untuk sekedar melepas dahaga dan menikmati suasana malam selesai beribadah sejak Asar. Kebetulan Pak Ustad dan beberapa rekan jamaah umroh Retali Mustajab Travel sedang berkumpul  untuk hal yang sama sambil berbagi bercerita berbagi pengalaman ibadah tadi pagi sampai malam di lingkungan Masjidil Haram. Pak De begitu menyimak cerita canda beberapa jamaah tersebut dan tidak terasa jam terus berdetak menuju ke larut malam. “ Pak Ustad, kok yaa ada, malaikat suka fulus yaa?” Pak Deto membuka pembicaraan dengan senyuman beliau yang khas dan gaya bicara jawa-timur.  “ Kenapa pak De?” Tanya Ustad. Pak De membuka cerita dan beberapa jamaah menunggu berusaha mendengar walaupun kantuk sudah menyerang. Maklum beliau memang favorit para jamaah dan paling senior dalam umroh kali ini.
 

Pak De melanjutkan ceritanya,” Begini ustad, tadi pagi khan kita sama-sama melakukan thawaf, terus setelah thawaf,kok saya kepikiran punya niat untuk mencium Hajrul Aswad”. “Saya menepi berteduh dulu memisahkan dari rombongan  karena mulai panas” lanjut pak De. “ Setelah yakin agak kuat saya perlahan-lahan mendekat ke salah satu dinding Kabah dimana Hajarul Aswad menempel” Sangat ramai dan berdesakan, agak merepotkan bagi saya untuk mendekat.” Sampai pada satu kondisi, saya mulai keleyengan dan agak kabur pandangan saya. “ Subhanallah, yaa kok Pak De tidak ngomong mau cium Hajarul Aswad” potong Ustad. “ Bisa bahaya pak De” lanjut ustad. “ Pak Ustad, saya belum selesai  biarkan saya selesai dulu cerita saya.” “ Waduh..makin menarik ni!”sahut jamaah lain. “ Nah pak Ustad, waktu pandangan saya kabur, saya kok melihat bayangan berbaju putih dan tangannya melambai ke     arah saya”. “Dalam benak saya, mungkin ini malaikat yang akan bantu saya, saya dekati dan saya pegang tangannya. Saya ditariknya dan terlihat seolah olah jalan terbuka menuju Hajarul Aswad, dan Alhamdulillah akhirnya saya bisa cium” Saya ditarik dan dipinggirkan di suatu tempat sesaat selesai mencium”. “Masih terasa pandangan kabur, dan tersadar dengan tepukan dari malaikat yang bantu saya” “ Saya basuh keringat dimuka saya, dan perlahan pandangan mulai jelas, dan agak kaget kok ada orang berbaju putih tinggi besar menjentikan jarinya ke arah muka saya sambil berkata fulus..fulus..fulus”.

 

“Dalam hati yaa kok ada malaikat suka fulus, kaget campur bingung, sambil melihat tas pinggang, saya berikan sejumlah riyal” jelas Pak De. “Dan seketika itu juga orang tersebut lenyap di barisan desakan kumpulan ikhwan akhwat yang sedang thawaf” sambungnya..

 

Al-Quran  menyebutkan  fungsi  masjid  antara  lain  di  dalam firman-Nya:

“Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan, dan tidak (pula) oleh jual-beli, atau aktivitas apa pun dan mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, membayarkan zakat, mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang” (QS An-Nur [24]: 36-37).

 

Meskipun jual beli adalah perkara yang dihalalkan dalam syariat, bukan berarti kehalalannya tanpa batasan dan ukuran. secara khusus terdapat hadits yang melarang  praktek jual yang di dalam masjid, diantara hadits-hadits itu adalah :

Dari Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah SAW  bersabda:

 

إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ

 

 “Jika kalian melihat orang yang berjual beli di masjid, maka katakanlah: “Semoga Allah tidak menguntungkan perniagaanmu.” ( HR. At Tirmidzi, Ad-Darimi dan Al Hakim. Dishahihkan oleh Syaikh Salim Al Hilali dalam syarh Riyadush Shalihin)

 

Hadist ini mengandung larangan untuk melakukan perdagangan dunia di masjid, sebab masjid merupakan tempat perdagangan akhirat antara makhluk dan khaliqnya

 

Menyentuh dan Mencium hajar aswad termasuk sunnah dalam manasik haji dan umrah. Sunnah hanya dilakukan ini ketika thawaf dan selesai shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim saja. Selain itu tidak disunnahkan.

 Disunnahkan sesuai dengan riwayat:

عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ وَيَقُولُ إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُكَ لَمْ أُقَبِّلْكَ

“Dari ‘Abis bin Rabi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat Umar bin Al Khattab mencium Hajar Aswad. Kemudian Umar berkata, “Sungguh aku telah menciummu, dan aku tahu pasti bahwa engkau hanyalah sekedar batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

 

Akan tetapi ketika musim haji dengan banyaknya orang maka bisa dipastikan sangat sulit bisa menyentuh atau menciumnya. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai seorang muslim berdesak-desakan dan menyakiti muslim yang lain dengan mendorong atau menarik hanya untuk menyentuh Hajar Aswad. Karena hukum menyentuh Hajar Aswad adalah sunnah sedangkan tidak menganggu seorang muslim adalah kewajiban. Menyakiti seorang muslim ada larangannya. Allah Ta’ala berfirman,

 

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَاناً وَإِثْماً مُّبِيناً

 Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (QS. Al Ahzab 58).

 

Ada beberapa alternatif cara menyentuh dan mencium Hajar Aswad serta bagaimana jika tidak bisa menyentuhnya. Syaikh DR. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani hafizhahullah berkata, “Berkaitan dengan Hajar Aswad ada 4 sunnah yang ada contohnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:

1.      menyentuh Hajar Aswad dengan tangannya kemudian mencium dan bertakbir, ini adalah cara yang paling sempurna

2.      jika tidak memungkinkan, maka ia menyentuh dengan tangannya dan mencium tangannya

3.      jika tidak memungkinkan, maka ia menyentuh dengan tongkat atau semacamnya, kemudian mencium bagian yang tersentuh tersebut

4.      jika tidak memungkinkan, ia berisyarat dengan tangannya dan bertakbir akan tetapi ia TIDAK mencium tangannya.

(Al-Hajj wal Umrah wal Ziyarah, hal. 73)

Semoga kisah nyata perjalanan umroh ini dapat menjadi ibroh kita bersama..aamiin

 

Wallahu alam bishowab

bprayoga@ ElMarwa_01062015

Paket umroh di Umroh Mustajab

Umroh Program Hemat Berencana (Tawadhu)
Umroh Program Promo (Qanaah)
Promo Umroh Plus
Paket Ramadhan
UMROH KELUARGA REGULER
UMROH KELUARGA REGULER DESEMBER 2017 *5
UMROH MUSTAJAB (EL MARWA GROUP)
UmrohMustajab Special
Copyright © UmrohMustajab.com 2017
All rights reserved